Oleh : Intan Meisari

Angin pagi membelai pipiku. Langit yang biru tersapu awan putih yang tipis dan terlihat samar. Di sekelilingku, tenda-tenda mulai dibuka dan pemiliknya bergegas memasang barang dagangannya. Pasar Minggu belum begitu ramai pagi ini. Mungkin aku kali ya yang datangnya kepagian.
“Lin, masih sepi gitu.” protes Nina padaku.
“Memang. Tapi enakan gini, kita bisa lihat-lihat barang tanpa disenggol-senggol.” jawabku.
“Ramenya jam berapa biasanya?” tanyanya lagi. Maklum, dia belum pernah ke Pasar Minggu, dia kan baru pindah ke Malang.
“Mungkin jam setengah tujuh, setengah jam lagi kok.” jawabku santai sambil melirik jam tanganku. “Lihat tuh, semuanya sudah buka, jadi kan kita bisa beli dengan nyaman, nggak ada senggol-senggolan.”
Nina tersenyum sambil manggut-manggut.
“Eh Lin, lihat tuh! Kesana yuk!” tiba-tiba dia menarik lenganku, bergegas ke tenda di seberang kami.
Ah, sepatu itu. Kataku dalam hati sambil tersenyum kecil. Kulihat Nina tampak antusias melihat sepatu-sepatu kets bergambar yang ditata rapi di atas meja. Dilihatnya sepatu itu dengan saksama, lalu lukisan yang ada di atasnya disentuh dengan lembut. Dia tersenyum berbinar dan melirik motif lain yang lebih lucu dan rame.
Aku hanya berdiri di sisinya, memandangi sepatu-sepatu itu dalam. Dan perlahan, kejadian setahun lalu terlintas di pikiranku.
Masih jelas di ingatanku, waktu itu, Arman meneleponku. Dia bilang ada barang baru di distronya, barang yang belum ada sama sekali di Indonesia.
“Iya Lin, gambar di sepatu itu lukisan tangan asli! Lucu-lucu lagi gambarnya, ada spongebob, doraemon, sinchan, macem-macem deh pokoknya. Ini barang masih belum dikeluarin, baru aja datang tadi malam, kalau Kamu beli sekarang, Kamu bakal jadi orang pertama di Indonesia yang punya sepatu sekeren itu!” ocehnya.
“Kapan sepatu itu dijual di distromu? Kan sekarang masih disimpan, belum dikeluarin.”
“Besok lusa dikeluarinnya.”
“Coba deh Kamu foto sepatunya, ntar kirimin ke aku. Aku mau lihat, cepetan ya!” kututup telponnya dengan girang. Barang baru! Sepatu yang belum dimiliki semua orang! Aku bakal jadi trendsetter.
Beberapa saat kemudian, MMS dari Arman masuk. Wow! Nggak salah memang. Bagus banget sepatunya! Lucu, dan bisa kujamin belum ada yang punya sepatu seperti ini se-Indonesia. Secepat kilat kutelepon si Arman.
“Man, aku beli satu, yang spongebob, ukurannya 38. Hari ini bisa nggak nyampe rumahku?” tanyaku antusias.
“Aduh Lin, ya nggak bisa… Paling sampainya besok lusa, itu udah yang paket kilat.”
“Nggak bisa, Man. Besok aku mau hang out sama anak-anak. Kalo baru nyampe Senin kan nggak bisa kupakai langsung. Aku kan sekolah, masa’ sekolah pake sepatu gituan?”
“Terus Kamu maunya gimana?”
“Suruh aja orang lain yang ngirim, berangkatnya naik pesawat, kan cepet. Jadi langsung nemuin aku di rumah. Biayanya gampang deh.”
“Oke. Sip lah! Paling nanti sore sepatumu nyampe.”
“Oke, thank’s ya, Man…”
Kututup telepon sambil tersenyum puas. Sebentar lagi aku akan minta uang ke mama, bilang aja pianoku rusak, mau di servis. Kan mahal tuh biaya servis piano, pasti uangnya cukup buat bayar pesawat sekalian harga sepatunya. Ntar yang nganterin sepatu aku suruh pura-pura betulin pinaoku, beres deh. Bodo amat sekarang lagi krisis, yang penting aku dapat sepatunya!
Waktu berjalan amat lamban dan sore pun datang. Ternyata benar, sepatuku datang tepat waktu dan aku sama seklai tak rugi. Baggggguss banget sepatunya!! Bener-bener remaja.
Esoknya, diriku seperti matahari. Kaos kuning, anting kuning, kalung kuning, gelang kuning dan sepatu kuning! Sepatu spongebob-ku amat unik dan teman-temanku benar-benar iri denganku. Mereka baru bisa membelinya 2 minggu kemudian. Tapi jelas, meskipun barangnya sama-sama baru, sepatukulah yang harganya lebih mahal. Apalagi aku beli di Jakarta, pake pesawat lagi. Harga sepatu yang sebenarnya Rp 500.000,00 menjadi Rp 600.000,00 untukku.
* * *
Suatu hari, ketika aku makan di Mall, tak sengaja aku jatuhkan dompetku. Saat aku merunduk ke bawah meja dan mengambilnya, mataku langsung membelalak. Dua meja di di depanku, sepasang kaki mengenakan sepatu yang sejenis denganku. Bukan sejenis lagi, tapi kembar! Astaga, sepatu limited editionku ada yang mengembari? Tidak. Malu bukan main aku. Saat itu juga, aku langsung meninggalkan tempat makan itu dan bergegas pulang.
Kutelepon Arman sesampainya di rumah, kumarahi dia. Katanya tidak akan ada yang menyamai sepatuku. Tapi nyatanya! Benar-benar menyebalkan. Aku sangat benci ada orang yang menyamai barangku.
Sorenya, aku minta uang lagi pada mamaku. Jelas aku berbohong. Kalau kukatakan untuk apa uang Rp 500.000,00 sebenarnya, sudah pasti yang akan kudapatkan adalah makian. Jadi aku mengatakan untuk bayar lomba musik, aku ikut 3 jenis lomba sekaligus, jadi masuk akal kalau biayanya setinggi itu.
Saat aku keluar dari kamar mamaku, aku berpapasan dengan kakakku.
“Lagi lagi…” gumam kakakku sengit sambil berdecak pelan.
Aku hanya meliriknya. Senyumku hilang seketika. Lalu dia mengambil uang yang ada di tanganku dengan paksa. Aku diseret ke kamarnya.
“Lima ratus ribu!!!” bentaknya tertahan. “Untuk apa lagi?!!”
“Bukan urusanmu.” jawabku tak kalah sinisnya. Kakak tahu semua kebohonganku, dia juga tahu kalau tidak ada lomba musik di tempat les kami.
“Kamu nggak kasihan sama mama? Mama itu hutangnya banyak gara-gara pabrik ayah bangkrut. Kamu kan udah besar, Lin. Masa’ nggak ngerti-ngerti sih!!”
“Kalau hutangnya banyak, kenapa les piano nggak dihentikan aja. Aku sudah muak dengan do-re-mi-nya!!” aku memalingkan muka.
“Lin!! Kamu itu anak SMA apa anak TK sih! Jelas-jelas ayah obsesi kita jadi pianist, ayah nggak mau kita berhenti les. Eh, Kamu malah—“
“Memanfaatkannya.” selaku. “Aku sudah tahu Kakak mau bilang apa.”
“Kita lagi megap-megap, Lin. Kamu tahan dong kebutuhan yang nggak penting. Buat makan aja susah. Masa’ Kamu nggak merhatiin, sekarang pembantu udah nggak ada, mama nggak pernah beli ikan atau daging, kita udah nggak pernah shopping lagi. Kita nggak ada uang buat itu, Lin!”
“Aku nggak bisa Kak kalo nggak shopping, aku nggak bisa kalo makan cuma tahu tempe doang.”
“Lin!! Kamu nyoba ngerti dong!! Bantu keluarga ini! Malah foya-foya…”
“Ayah tuh yang foya-foya pake acara les piano segala! Kan mahal banget. Udah gitu maksa lagi!”
“Kembaliin uang mama.” gertak kakak lagi.
“Nggak mau. Ini penting, Kak!”
“Penting?? Buat apa anak SMA butuh uang sebanyak itu?” kakakku geram, tapi aku tak menjawab. “Buat apa, Lin?”
“Bukan urusanmu!”
“Alin!!” sentaknya pelan. Matanya merah memandangku. Menyala-nyala seperti api kepanasan.
“Se-pa-tu.” ucapku ketus. Sengaja kuberi tekanan pada setiap suku katanya.
“Ha? Sepatu? Lima ratus ribu? Kamu gila!”
“Kakak nggak tahu sih sepatunya kayak gimana, kalo kakak tahu pasti juga pengen.”
“Iya pengen, tapi aku nggak akan beli sepatu semahal itu dengan kondisi kita semiskin ini!”
“Miskin? Kenapa kalo kita miskin kita masih sanggup bayar uang les piano yang lebih mahal dari sepatuku?!!”
“Terserah apa katamu, pokoknya kembalikan uang mama.” kakak menaruh uang itu di telapak tanganku dengan kasar.
“Kembalikan sendiri!!!” jawabku sinis sambil melempar uang itu ke mukanya. Lalu lembaran-lembaran biru menghujani lantai kamarnya. Aku keluar sambil membanting pintu.
Aku melarikan diri ke rumah Putra, tetangga sekaligus sahabatku. Dia memang kurang sedap dipandang, tapi nasehat-nasehatnya sungguh ajaib. Disana, aku marah-marah tidak jelas. Membanting apa saja yang bisa kuraih. Tapi sejauh ini yang bisa kubanting hanya boneka-boneka dan bola plastik yang seperti durian itu. Rupanya dia sudah hafal kebiasaanku, jadi waktu aku masuk tadi, benda-benda berharganya siap untuk diamankan.
“Aaaaarrrghhh!” teriakku di rumahnya yang sepi ini. “Sebbbellll!!! Kakak jahat!!! Jahat!! Jahat!! Jahat!! Jahat!!”
“Tau nggak, Put?? Kakak itu menyebalkan!! Egois!! Pokoknya Kak Rio jahat!!”
Aku diam sejenak, mencoba mengatur napasku yang tersengal. Cape’ dari tadi teriak-teriak, marah-marah tapi tak ada tanggapan apa-apa dari Putra. Dia baru menanggapi setelah aku benar-benar diam, diam karena cape’ berteriak.
“Kenapa memang kakakmu, Lin?” tanyanya santai, seperti aku tidak pernah meretakkan dinding kamarnya dengan teriakanku.
Aku mulai menceritakannya, berurutan dan sangat detail. Lagi-lagi aku manyun saat menyebut nama Rio.
“Menurutku sih, Kamu yang salah.” ucapnya ringan.
“Lho, kok Kamu malah belain kakakku sih??” protesku langsung.
“Kamu mau masalahmu selesai apa nggak? Kalau nggak ya pulang aja sana, bohong aja terus sama orang yang hampir mati pas mau melahirkan Kamu.”
Deg. Selalu seperti ini. Cara bicaranya yang kasar benar-benar mengena. Membuatku diam seketika. Itulah kelebihannya, dia tahu aku memang harus diobati dengan cara seperti itu. Cara yang menurut orang lain kasar tapi melumpuhkan jiwaku.
“Kamu yang salah, Lin. Tapi Kamu juga benar.” jawabnya. “Kayak lagunya Mahadewi, Begitu Salah Begitu Benar, hehehe.” dia mmebuatku ikut tertawa, tapi tertawa jengkel.
“Waktu melahirkan Kamu, ibumu tinggal milih hidup atau mati, ternyata beliau milih hidup sama Kamu. Tapi, pas Kamu udah besar, Kamu kayak gitu. Udah susah-susah melahirkan Kamu, ternyata Kamu berotak bulus gitu. Coba deh bayangin kalo mamamu sakit, stres mikirin Kamu, stres nyari hutang, stres bayar hutang.”
Aku merunduk sedikit, tapi tetap manyun.
“Aku tahu Kamu belum terbiasa hidup sederhana, aku juga tahu gengsimu tinggi, coba deh nggak usah gengsi gitu, bisa kan?”
“Ya nggak bisalah…, ntar aku dibilang ketinggalan zaman.”
“Menurutmu aku ketinggalan zaman nggak?” tanyanya aneh. Aku hanya menggeleng.
“Aku nggak pernah beli baju di distro, aku nggak pernah beli sepatu seharga seratus ribu, tahu nggak, sepatuku itu harganya dua puluh ribuan…”
Aku mengerutkan kening. “Masa’?”
Dia mengangguk antusias. “Tapi aku nggak ketinggalan zaman kan?” dia tersenyum tipis. “Kamu juga bisa kayak aku. Zaman orang pinter kayak gini masih mikirin gengsi, kuno banget deh, Lin! Kalo emang nggak mampu beli yang mahal-mahal, ya beli yang murah aja, yang penting kan punya. Apa temanmu tanya ‘Kamu pembeli yang keberapa, Lin?’ enggak kan?”
Aku tersenyum sekilas. Benar juga dia.
“Apalagi kondisi ekonomimu kayak gitu, Kamu harus menahan semuanya, toh Kamu juga nggak miskin-miskin amat.”
“Aku—“
“Kamu cuma nggak sekaya dulu. Kamu masih bisa les piano, Kamu masih bisa sekolah, tapi Kamu nggak bisa shopping, nggak bisa beli yang mahal-mahal, berarti kan Kamu masih mampu. Coba Kamu beli yang murah-murah aja. Aku temani deh…”
“Tapi kan itu murahan, Put. Nggak nyaman dipake lagi.”
“Kamu pernah pinjem jaketku kan? Itu harganya tiga puluh ribu, Kamu gatel-gatel pake itu? enggak kan…, daripada jaketmu, harganya selalu diatas seratus ribu. Kalo Kamu pake caraku, kan sudah bisa dapat 3, kembaliannya bisa buat beli es.”
Aku meringis.
“Pake caraku aja, nggak usah gengsi-gengsi segala, kuno banget lagi…” lanjutnya. “Sekarang Kamu minta maaf sana sama Kak Rio, terus kembaliin uangnya mamamu.”
Aku tersenyum tulus. “Makasih ya, Put. Eh, tapi kalo mama tanya yang macem-macem gimana?”
“Ngembaliinnya diam-diam aja, langsung Kamu taruh di dompetnya.”
Aku tersenyum senang, lalu bergegas pulang.
* * *
“Alin!” seru Nina.
Aku tersadar dari lamunanku.
“Ayo kita cari makan, aku lapar.” rengeknya. “Lihat deh, aku beli yang ini.” Nina menujukkan sepatu barunya padaku. Sepatu yang…berwarna kuning bermotif spongebob.
Aku tersenyum simpul. Sekarang itu bukan limited edition lagi. “Bagus, Nin.” ucapku. Ah, sepatu itu. Berkat dia, sekarang aku tidak lagi berfoya-foya dan gengsi lagi. Tapi yang terpenting, aku tidak lagi berbohong pada orang yang hampir mati saat melahirkanku.
T A M A T