formats

Launching Ranting: FLP Ranting SMAN 10 Malang

Published on May 2, 2012 by in Berita

Susuran Pengurus FLP Cabang SMAN 10 Malang (Sampoerna Academy)

Pelindung      : Dra. Niken Asih Santjojo,M.Pd

Penasihat       : Endang Setyoningsih, S. Pd ( Head of Student Service)

Djoeni Hendarti, S. Pd (LtoL Coordinator)

Supervisor    :  Sudibyo, S. Pd

Pembina         : FLP Cabang Kota Malang

Ketua Umum               :  Indana Zulfa

Ketua Harian               :  Muwaffiqol Fahmi

Sekertaris                     :  Ika Diana Werdani

Bendahara                   :   Yusa Nikmat T.

Koordinator                :  Vita Fitria Ramadhani

Humas                           :   Bagaskoro M.D. P.

Fadiah Nirmala

Pasoari Widiastuti

Kaderasasi                   :   Ariyanto

Ika Diana Werdani

Mufaffiqol Fahmi

Karlita Natasha Aini

Usaha Mandiri           :    Fadiah Nirmala

Indiana Zulfa

Vita Fitria R

Yusa Nikmat T.

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Daftar pemenang Writing Contest on the Spot

Published on April 7, 2012 by in Pengumuman

Juara I : DINI HAPPY ROSE MERRY (Serigala yang Tertawan)

Juara II: RIFCA FARIH AZIZAH (Suara dari Timur)

Juara III: RIZQI MUJITA SARI (Hahaha…)

Juara Harapan I: REZKY PERMATA PUTRI (Pesawar untuk Presiden)

Juara Harapan II: ADI NUGROHO (Operasi Sedot BBM)

 

Nominator 10 Besar

1. FIKA PUSPITASARI (Dik Rokhimah Jangan Pergi)

2. GALUH DWI HANDARU (Sarjana Solar Indonesia)

3. NUR SHAUMA APRIANI (BBM Barang-Barang Mahal)

4. ILMA NURMAWATI (BBM di Negeri Impian)

5. ASRI DIANA KAMILIN (Matinya Seorang Peneliti)

 

Seamat buat para pemenang…semoga terus berkarya!

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Along di Pasar Minggu

Published on April 3, 2012 by in Cerpen, Karya

Oleh : Yanti

Hari minggu identik dengan hari libur. Apa yang bakal kamu kerjain saat itu?. Tidur sampai matahari tinggi atau jalan-jalan menghirup udara segar. Kalau aku disuruh memilih, pasti pilihanku jatuh pada option kedua. Jalan-jalan. Tapi jalan-jalanku kali ini bukan untuk menghirup udar segar. Aku justru menuju ke tempat yang berpolusi. Ke Pasar Minggu.

Ntah, mimpi apa aku semalam. Yang jelas, pagi ini, tepat jam 6 pagi aku tlah tenggelam di lautan manusia. Di antara para pedagang yang sibuk menata dagangannya. Diantara calon pembeli yang sibuk memilah dan memilih.

“Waoooowww…. ternyata suasananya seramai insi…” Aku bergumam. Mataku sibuk beroprasi. Ke kanan, kiri, depan, belakang. Semuanya penuh dengan manusia.

Aku melangkah perlahan. Benar-benar mengamati setriap apa yang kusaksikan. Sejak langkah pertama, dari ujung pasar minggu di depan Perpustakaan Umum Kota Malang, aku menjumpai banyak hal yang menarik perhatianku.Mulai dari penjual sate bekicot (kenapa ya tulisannya sate 02??), penukaran mata uang tempoe doeloe, sampai tukang topeng monyet yang lagi menyiksa monyetnya (soalnya monyetnya di ikat lehernya trus dipaksa beraksi.. Apa itu bukan penyiksaan namanya?!) serta penjual barang-barang kebutuhan dan makanan sehari-hari juga ada. Pokoknya komplet deh….

“Heeem… ngapain ya?? mau beli apa enaknya?” aku kembali bergumam seorang diri. Keinginanku sebenarnya membeli apa yang kulihat. Tapi apalah daya.. Anggaran Belanja Negara belum mengalir.. hehehe..

Tak berapa lama, langkahku terhenti di depan sebuah stand. Pandanganku terpaku pada satu hal. Sebuah t-shirt putih, berlogo singa, penuh dengan coretan kulihat disana. T-shir Arema dengan tanda tangan pemainnya tergantung manis disana.

“Waowwwwwww… itu kan t-shirt yang ku idamkan semenjak dahulu kala.. yang sampai saat ini belum sempat terbeli karena penyakit Kanker (Kantong kering) yang kuderita akhir-akhir ini…”

aku merangsek ke dalam stand. Tak kupedulikan orang-orang yang berdesakan memilih atribut Arema itu. Maklum, sekarng Arema lagi booming. Apalagi Senin, 30 Maret nanti, presiden RI kita tercinta akan datang ke Kanjuruhan. Untuk menyaksikan pertandinga Arema VS Persitara Live. Sekalian meresmikan KSN (Kongres Sepak Bola Nasional). Jadi tak heran jika banyak Aremania berburu atribut untuk persiapan hari senin ntar.

Balik lagi ke kisah t-shirt tadi. Akupun lantas mengambilnya. Dilihat, diraba, ditrawang. Setelah itu hasilnya : Kecewa. Hanya satu kata yang keluar dari bibirku

“Lho? Kok?”

“Kenapa Mbak?” tanya penjaga stand yang sejak tadi berada di dekatku.

“Ini tanda tangannya?” kataku sambil memandang t-shirt ditanganku.

“Oh..iya Mbak..tanda tangan yang asli cuma punyanya pelatihnya. Jadi yang ini sablonan.” Mas penjaga menjelaskan sambil nyengir.

Akupun bergeser. Memandang sebuah t-shit putihdihadapanku. Dengan wajah pemain favoritku terpampang memenuhi bagian depan t-shirt. Wajah Noh Alam Shah atao biasa disapa Along.aku tersenyum memandang t-shirt itu.

“Suka Mbak? Udah ambil aja. Ini yang terakhir. Limited edition lagi. Cuma 40 ribu doang” Mas penjaga kembali menawarkan dagangannya.

“Nggak bisa kurang ya Mas? 30 ribu gimana?”

“35 deh Mbak. Barang terakhir nih” Mas penjaga mengambil t-shirt yang tergantung. Menyerahkannya padaku. Tiba-tiba, aku merasakan seseorang menabrakku dari samping. Otomatis, aku mendongakkan kepala. Orang yang menabakku pun memandang ke arahku. Dia tersenyum

“Sorry ya” hanya itu yang dia bilang. Lantas ia pergi.

Aku tertegun. Ta percaya dengan apa yang kulihat. Aku mengarahklan pandanganku ke t-shirt yang kupegang. Kemudian ke arah perginya orang tadi. Bagai orang yang baru bangun dari pingsan, tak peduli dengan keadaaan sekitar. Aku langsung berteriak..

“Along!!! Tunggu!!!”

Kulemparkan t-shirt yang kupegang ke arah mas penjaga stand. Nampaknya dia shock melihatku tiba-tiba berteriak dan langsung kabur. Tapi aku tak peduli. Kulangkahkan kakiku setengah berlari, mengikuti jejak orang yangmenabrakku tadi. Kuterobos lautan manusia yang semakin padat. Kudengar teriakan marah dari orang-orang yang kutabrak dibelakangku. Aku tetap cuek.

Saat napasku hampir habis, barulah aku berhasil menyusulnya.

“Tunggu!!” Aku berteriak. Dia pun membalikkan tubuhnya. Menghadap ke araku.

“Ya?? Ada apa??” dia memandangku.

Dengan napas yang masih putus-putus, akupun memandangnya. Mengamati wajahnya secar seksama.Detik itu juga aku sadar.. kalau ternyata aku  salah orang… wkwkw…

Sambil nyengir kuda kukatakan padanya

“Nggak kok Mas… saya kira tadi temen saya.. maaf ya”

Dia tersenyum sekilas. Mengangguk,. Kemudian pergi.

Aku mengomel dalam dalam hati. Menertawakan kebodohanku sendiri. Aku kira orang yang menabrakku iti Noh Alan Shah atau Along. Tapi ternyata hanya mirip jika dipandang sekilas. Saat dipandang secara teliti… benar-benar beda jauh. Jangan pernah percaya pada pandangan mata. Karena pandangan mata bisa menipu. Meskipun yang memandang bukan penipu. Pesan yang disampaikan salah seorang guruku sekarang benar-benar terbukti.

Denagan langkah lemas, aku kembali ke stand tempat menjual t-shirt tadi. Aku berniat membelinya. Setidaknya untuk mengurangi rasa kecewaku karena tertipu oleh seseorang yang kukira Along.

“Mas, mana? Jadi saya ambil 35” kataku begitu sampai di stand.

“T-shirt tadi Mbak? Wah sayang banget. Begitu Mbak pergi, ada yang ngambil 40 ribu. Jadi ya saya kasihkan. Mbak sih main kabuar aja…” Penjual itu menjawab panjang lebar.

Saat itu aku merasa ingin pingsan. Hilanglah kesempatan memandang wajah Along sepuasnya. Meski hanya lewat t-shirt.

Benar-benar minggu yang menyebalkan…………..

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Writing Contest on the spot

Published on March 20, 2012 by in Pengumuman

Nulis di kamar…udah biasa…

Nulis sendirian…juga udah biasa…

Nulis hanya beberapa jam dan langsung jadi?? Hm….gimana ya??

Penasaran….datang aja ke acara FLP di IBF…!!

Ajak semua kawan-kawanmu…. ga rugi lho...

Tanggal 6 April 2012
Pukul 13.00-15.00 WIB
Tempat: Skodam Brawijaya Malang
Biaya pendaftaran Rp. 10.000,-
Fasilitas:
-    Sertifikat
-    Souvenir untuk 20 pendaftar pertama
-    Kertas disediakan oleh panitia, peserta membawa sendiri alat tulis

Hadiah:
Juara I: Rp. 150.000,- + Karya dimuat di Malang pos edisi minggu (tanpa honor)
Juara II: Rp. 80.000,- + Karya dimuat di Malang pos edisi minggu (tanpa honor)
Juara III: Rp. 60.000,- + Karya dimuat di Malang pos edisi minggu (tanpa honor)
Juara IV dan V: Hadiah Hiburan dari FLP
ada hadiah menarik lainnya berupa buku kumpulan cerpen dari Malang pos

 

Selain itu…ada juga lho…

 

TALKSHOW DAN BEDAH BUKU “ROSE” KARYA SINTA YUDISIA

 

Karena mawar itu berduri, maka ia mampu menjaga keindahan kuntum-kuntumnya. Tetapi, Mawar, gadis tomboy sekaligus jago karate yang senang mendaki gunung ini, tak hanya dituntut menjaga dirinya sendiri. Ia harus mengembalikan kehormatan keluarganya yang tercabik-cabik.

Ketika Cempaka, Sang Kakak nan cantik dan menjadi idola semua pria bermaksud menggugurkan bayi dari hasil hubungan di luar nikahnya, Mawar menentang keras. Ketika si bayi akhirnya lahir dan Cempaka mencampakkannya, Mawar pun merawat Yasmin, si bayi itu. Ia rela orang-orang mengira bahwa Yasmin adalah anaknya, padahal ia tak bersuami, sementara Cempaka, melenggang dalam karirnya tanpa ada yang mencurigai asal-usulnya.
Ketika sang ibu terjebak dalam lilitan hutang, yang membuat rumah mereka disita dan mereka semua harus pergi dari rumah antik peninggalan almarhum ayah mereka, Mawar pun memimpin kebangkitan keluarga dengan bersusah-payah mencari nafkah.
Bahkan, Mawar pula yang berjuang keras membiayai kuliah Melati, adiknya yang bungsu di Fakultas Kedokteran, sementara kuliahnya sendiri terlantar, karena sibuk bekerja. Bagaimana jika semua pengorbanan itu seperti tak mendapatkan balasan?

Penasaran kan…gimana sang maestro menulis novel ini???
Atau ingin tahu cara meenjadi penulis handal?
Datang saja langsung … ke SKODAM BRAWIJAYA MALANG

Tanggal 7 April 2012
Pukul 15.00-17.00 WIB

DITUNGGU LHOOOooo…!

CP:
Lina: 081945342232
Hafid: 085746000190

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Ah, Sepatu Itu

Published on March 12, 2012 by in Cerpen, Karya

Oleh : Intan Meisari

Angin pagi membelai pipiku. Langit yang biru tersapu awan putih yang tipis dan terlihat samar. Di sekelilingku, tenda-tenda mulai dibuka dan pemiliknya bergegas memasang barang dagangannya. Pasar Minggu belum begitu ramai pagi ini. Mungkin aku kali ya yang datangnya kepagian.

“Lin, masih sepi gitu.” protes Nina padaku.

“Memang. Tapi enakan gini, kita bisa lihat-lihat barang tanpa disenggol-senggol.” jawabku.

“Ramenya jam berapa biasanya?” tanyanya lagi. Maklum, dia belum pernah ke Pasar Minggu, dia kan baru pindah ke Malang.

“Mungkin jam setengah tujuh, setengah jam lagi kok.” jawabku santai sambil melirik jam tanganku. “Lihat tuh, semuanya sudah buka, jadi kan kita bisa beli dengan nyaman, nggak ada senggol-senggolan.”

Nina tersenyum sambil manggut-manggut.

“Eh Lin, lihat tuh! Kesana yuk!” tiba-tiba dia menarik lenganku, bergegas ke tenda di seberang kami.

Ah, sepatu itu. Kataku dalam hati sambil tersenyum kecil. Kulihat Nina tampak antusias melihat sepatu-sepatu kets bergambar yang ditata rapi di atas meja. Dilihatnya sepatu itu dengan saksama, lalu lukisan yang ada di atasnya disentuh dengan lembut. Dia tersenyum berbinar dan melirik motif lain yang lebih lucu dan rame.

Aku hanya berdiri di sisinya, memandangi sepatu-sepatu itu dalam. Dan perlahan, kejadian setahun lalu terlintas di pikiranku.

Masih jelas di ingatanku, waktu itu, Arman meneleponku. Dia bilang ada barang baru di distronya, barang yang belum ada sama sekali di Indonesia.

“Iya Lin, gambar di sepatu itu lukisan tangan asli! Lucu-lucu lagi gambarnya, ada spongebob, doraemon, sinchan, macem-macem deh pokoknya. Ini barang masih belum dikeluarin, baru aja datang tadi malam, kalau Kamu beli sekarang, Kamu bakal jadi orang pertama di Indonesia yang punya sepatu sekeren itu!” ocehnya.

“Kapan sepatu itu dijual di distromu? Kan sekarang masih disimpan, belum dikeluarin.”

“Besok lusa dikeluarinnya.”

“Coba deh Kamu foto sepatunya, ntar kirimin ke aku. Aku mau lihat, cepetan ya!” kututup telponnya dengan girang. Barang baru! Sepatu yang belum dimiliki semua orang! Aku bakal jadi trendsetter.

            Beberapa saat kemudian, MMS dari Arman masuk. Wow! Nggak salah memang. Bagus banget sepatunya! Lucu, dan bisa kujamin belum ada yang punya sepatu seperti ini se-Indonesia. Secepat kilat kutelepon si Arman.

“Man, aku beli satu, yang spongebob, ukurannya 38. Hari ini bisa nggak nyampe rumahku?” tanyaku antusias.

“Aduh Lin, ya nggak bisa… Paling sampainya besok lusa, itu udah yang paket kilat.”

“Nggak bisa, Man. Besok aku mau hang out sama anak-anak. Kalo baru nyampe Senin kan nggak bisa kupakai langsung. Aku kan sekolah, masa’ sekolah pake sepatu gituan?”

“Terus Kamu maunya gimana?”

“Suruh aja orang lain yang ngirim, berangkatnya naik pesawat, kan cepet. Jadi langsung nemuin aku di rumah. Biayanya gampang deh.”

“Oke. Sip lah! Paling nanti sore sepatumu nyampe.”

“Oke, thank’s ya, Man…”

Kututup telepon sambil tersenyum puas. Sebentar lagi aku akan minta uang ke mama, bilang aja pianoku rusak, mau di servis. Kan mahal tuh biaya servis piano, pasti uangnya cukup buat bayar pesawat sekalian harga sepatunya. Ntar yang nganterin sepatu aku suruh pura-pura betulin pinaoku, beres deh. Bodo amat sekarang lagi krisis, yang penting aku dapat sepatunya!

Waktu berjalan amat lamban dan sore pun datang. Ternyata benar, sepatuku datang tepat waktu dan aku sama seklai tak rugi. Baggggguss banget sepatunya!! Bener-bener remaja.

Esoknya, diriku seperti matahari. Kaos kuning, anting kuning, kalung kuning, gelang kuning dan sepatu kuning! Sepatu spongebob-ku amat unik dan teman-temanku benar-benar iri denganku. Mereka baru bisa membelinya 2 minggu kemudian. Tapi jelas, meskipun barangnya sama-sama baru, sepatukulah yang harganya lebih mahal. Apalagi aku beli di Jakarta, pake pesawat lagi. Harga sepatu yang sebenarnya Rp 500.000,00 menjadi Rp 600.000,00 untukku.

* * *

            Suatu hari, ketika aku makan di Mall, tak sengaja aku jatuhkan dompetku. Saat aku merunduk ke bawah meja dan mengambilnya, mataku langsung membelalak. Dua meja di di depanku, sepasang kaki mengenakan sepatu yang sejenis denganku. Bukan sejenis lagi, tapi kembar! Astaga, sepatu limited editionku ada yang mengembari? Tidak. Malu bukan main aku. Saat itu juga, aku langsung meninggalkan tempat makan itu dan bergegas pulang.

Kutelepon Arman sesampainya di rumah, kumarahi dia. Katanya tidak akan ada yang menyamai sepatuku. Tapi nyatanya! Benar-benar menyebalkan. Aku sangat benci ada orang yang menyamai barangku.

Sorenya, aku minta uang lagi pada mamaku. Jelas aku berbohong. Kalau kukatakan untuk apa uang Rp 500.000,00 sebenarnya, sudah pasti yang akan kudapatkan adalah makian. Jadi aku mengatakan untuk bayar lomba musik, aku ikut 3 jenis lomba sekaligus, jadi masuk akal kalau biayanya setinggi itu.

Saat aku keluar dari kamar mamaku, aku berpapasan dengan kakakku.

“Lagi lagi…” gumam kakakku sengit sambil berdecak pelan.

Aku hanya meliriknya. Senyumku hilang seketika. Lalu dia mengambil uang yang ada di tanganku dengan paksa. Aku diseret ke kamarnya.

“Lima ratus ribu!!!” bentaknya tertahan. “Untuk apa lagi?!!”

“Bukan urusanmu.” jawabku tak kalah sinisnya. Kakak tahu semua kebohonganku, dia juga tahu kalau tidak ada lomba musik di tempat les kami.

“Kamu nggak kasihan sama mama? Mama itu hutangnya banyak gara-gara pabrik ayah bangkrut. Kamu kan udah besar, Lin. Masa’ nggak ngerti-ngerti sih!!”

“Kalau hutangnya banyak, kenapa les piano nggak dihentikan aja. Aku sudah muak dengan do-re-mi-nya!!” aku memalingkan muka.

“Lin!! Kamu itu anak SMA apa anak TK sih! Jelas-jelas ayah obsesi kita jadi pianist, ayah nggak mau kita berhenti les. Eh, Kamu malah—“

“Memanfaatkannya.” selaku. “Aku sudah tahu Kakak mau bilang apa.”

“Kita lagi megap-megap, Lin. Kamu tahan dong kebutuhan yang nggak penting. Buat makan aja susah. Masa’ Kamu nggak merhatiin, sekarang pembantu udah nggak ada, mama nggak pernah beli ikan atau daging, kita udah nggak pernah shopping lagi. Kita nggak ada uang buat itu, Lin!”

“Aku nggak bisa Kak kalo nggak shopping, aku nggak bisa kalo makan cuma tahu tempe doang.”

“Lin!! Kamu nyoba ngerti dong!! Bantu keluarga ini! Malah foya-foya…”

“Ayah tuh yang foya-foya pake acara les piano segala! Kan mahal banget. Udah gitu maksa lagi!”

“Kembaliin uang mama.” gertak kakak lagi.

“Nggak mau. Ini penting, Kak!”

“Penting?? Buat apa anak SMA butuh uang sebanyak itu?” kakakku geram, tapi aku tak menjawab. “Buat apa, Lin?”

“Bukan urusanmu!”

“Alin!!” sentaknya pelan. Matanya merah memandangku. Menyala-nyala seperti api kepanasan.

“Se-pa-tu.” ucapku ketus. Sengaja kuberi tekanan pada setiap suku katanya.

“Ha? Sepatu? Lima ratus ribu? Kamu gila!”

“Kakak nggak tahu sih sepatunya kayak gimana, kalo kakak tahu pasti juga pengen.”

“Iya pengen, tapi aku nggak akan beli sepatu semahal itu dengan kondisi kita semiskin ini!”

“Miskin? Kenapa kalo kita miskin kita masih sanggup bayar uang les piano yang lebih mahal dari sepatuku?!!”

“Terserah apa katamu, pokoknya kembalikan uang mama.” kakak menaruh uang itu di telapak tanganku dengan kasar.

“Kembalikan sendiri!!!” jawabku sinis sambil melempar uang itu ke mukanya. Lalu lembaran-lembaran biru menghujani lantai kamarnya. Aku keluar sambil membanting pintu.

Aku melarikan diri ke rumah Putra, tetangga sekaligus sahabatku. Dia memang kurang sedap dipandang, tapi nasehat-nasehatnya sungguh ajaib. Disana, aku marah-marah tidak jelas. Membanting apa saja yang bisa kuraih. Tapi sejauh ini yang bisa kubanting hanya boneka-boneka dan bola plastik yang seperti durian itu. Rupanya dia sudah hafal kebiasaanku, jadi waktu aku masuk tadi, benda-benda berharganya siap untuk diamankan.

“Aaaaarrrghhh!” teriakku di rumahnya yang sepi ini. “Sebbbellll!!! Kakak jahat!!! Jahat!! Jahat!! Jahat!! Jahat!!”

“Tau nggak, Put?? Kakak itu menyebalkan!! Egois!! Pokoknya Kak Rio jahat!!”

Aku diam sejenak, mencoba mengatur napasku yang tersengal. Cape’ dari tadi teriak-teriak, marah-marah tapi tak ada tanggapan apa-apa dari Putra. Dia baru menanggapi setelah aku benar-benar diam, diam karena cape’ berteriak.

“Kenapa memang kakakmu, Lin?” tanyanya santai, seperti aku tidak pernah meretakkan dinding kamarnya dengan teriakanku.

Aku mulai menceritakannya, berurutan dan sangat detail. Lagi-lagi aku manyun saat menyebut nama Rio.

“Menurutku sih, Kamu yang salah.” ucapnya ringan.

“Lho, kok Kamu malah belain kakakku sih??” protesku langsung.

“Kamu mau masalahmu selesai apa nggak? Kalau nggak ya pulang aja sana, bohong aja terus sama orang yang hampir mati pas mau melahirkan Kamu.”

Deg. Selalu seperti ini. Cara bicaranya yang kasar benar-benar mengena. Membuatku diam seketika. Itulah kelebihannya, dia tahu aku memang harus diobati dengan cara seperti itu. Cara yang menurut orang lain kasar tapi melumpuhkan jiwaku.

“Kamu yang salah, Lin. Tapi Kamu juga benar.” jawabnya. “Kayak lagunya Mahadewi, Begitu Salah Begitu Benar, hehehe.” dia mmebuatku ikut tertawa, tapi tertawa jengkel.

“Waktu melahirkan Kamu, ibumu tinggal milih hidup atau mati, ternyata beliau milih hidup sama Kamu. Tapi, pas Kamu udah besar, Kamu kayak gitu. Udah susah-susah melahirkan Kamu, ternyata Kamu berotak bulus gitu. Coba deh bayangin kalo mamamu sakit, stres mikirin Kamu, stres nyari hutang, stres bayar hutang.”

Aku merunduk sedikit, tapi tetap manyun.

“Aku tahu Kamu belum terbiasa hidup sederhana, aku juga tahu gengsimu tinggi, coba deh nggak usah gengsi gitu, bisa kan?”

“Ya nggak bisalah…, ntar aku dibilang ketinggalan zaman.”

“Menurutmu aku ketinggalan zaman nggak?” tanyanya aneh. Aku hanya menggeleng.

“Aku nggak pernah beli baju di distro, aku nggak pernah beli sepatu seharga seratus ribu, tahu nggak, sepatuku itu harganya dua puluh ribuan…”

Aku mengerutkan kening. “Masa’?”

Dia mengangguk antusias. “Tapi aku nggak ketinggalan zaman kan?” dia tersenyum tipis. “Kamu juga bisa kayak aku. Zaman orang pinter kayak gini masih mikirin gengsi, kuno banget deh, Lin! Kalo emang nggak mampu beli yang mahal-mahal, ya beli yang murah aja, yang penting kan punya. Apa temanmu tanya ‘Kamu pembeli yang keberapa, Lin?’ enggak kan?”

Aku tersenyum sekilas. Benar juga dia.

“Apalagi kondisi ekonomimu kayak gitu, Kamu harus menahan semuanya, toh Kamu juga nggak miskin-miskin amat.”

“Aku—“

“Kamu cuma nggak sekaya dulu. Kamu masih bisa les piano, Kamu masih bisa sekolah, tapi Kamu nggak bisa shopping, nggak bisa beli yang mahal-mahal, berarti kan Kamu masih mampu. Coba Kamu beli yang murah-murah aja. Aku temani deh…”

“Tapi kan itu murahan, Put. Nggak nyaman dipake lagi.”

“Kamu pernah pinjem jaketku kan? Itu harganya tiga puluh ribu, Kamu gatel-gatel pake itu? enggak kan…, daripada jaketmu, harganya selalu diatas seratus ribu. Kalo Kamu pake caraku, kan sudah bisa dapat 3, kembaliannya bisa buat beli es.”

Aku meringis.

“Pake caraku aja, nggak usah gengsi-gengsi segala, kuno banget lagi…” lanjutnya. “Sekarang Kamu minta maaf sana sama Kak Rio, terus kembaliin uangnya mamamu.”

Aku tersenyum tulus. “Makasih ya, Put. Eh, tapi kalo mama tanya yang macem-macem gimana?”

“Ngembaliinnya diam-diam aja, langsung Kamu taruh di dompetnya.”

Aku tersenyum senang, lalu bergegas pulang.

* * *

            “Alin!” seru Nina.

Aku tersadar dari lamunanku.

“Ayo kita cari makan, aku lapar.” rengeknya. “Lihat deh, aku beli yang ini.” Nina menujukkan sepatu barunya padaku. Sepatu yang…berwarna kuning bermotif spongebob.

Aku tersenyum simpul. Sekarang itu bukan limited edition lagi. “Bagus, Nin.” ucapku. Ah, sepatu itu. Berkat dia, sekarang aku tidak lagi berfoya-foya dan gengsi lagi. Tapi yang terpenting, aku tidak lagi berbohong pada orang yang hampir mati saat melahirkanku.

 

 

T A M A T

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments